PAI : Perbedaan Kebenaran dan Kebetulan

Perbedaan Kebenaran dan Kebetulan 
Rabu, 12 September 2018 



Assalamualaikum Warohmatullah Wabarakatuh. Pertama, mari kita panjatkan puji syukur kehadiran Allah SWT, yang mana karena limpahan nikmat dan rahmat nya kita masih diberikan kesehatan dan keselamatan, Aamiin Yaa rabbal ‘alamin. Kedua, shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang kita tunggu tunggu syafa’at nya pada akhir zaman.

Baik, pada kesempatan kali ini, saya Angger Bagus Utama, akan menjelaskan tentang materi perkuliahan agama islam saya, yang berupa resume yang saya buat pada blog ini. Semoga artikel yang saya bagikan dalam blog ini bermanfaat bagi kita semua yang membacanya, Aamiin.

Tentunya, dalam kehidupan sehari hari, kita pasti sering mendapatkan sebuah atau bahkan banyak hal hal baru, dan dari hal -  hal baru tersebut, belum tentu mengandung kebenaran dan bisa menjadi hanya kebetulan belaka. Nah, disini kita membahas perbedaan kebenaran dan kebetulan. Menyimak pada akhir kalimat yang menyatakan “hanya kebetulan belaka”, ini seolah olah bahwa kejadian di bumi dan langit ini seakan akan random, padahal kan sebaliknya, kejadian kejadian tersebut sudah memang dalam skenario Allah SWT. Dengan mengartikan bahwa kejadian kita dalam arti kebetulan, tentu ini sudah memperlihatkan bahwa kita kurang bersyukur atas segala nikmat, dan lupa bahwa semua kejadian dalam kehidupan kita ini atas kehendak-Nya. Yang kita sebut itu sebuah kebetulan adalah sesuatu yang sebenarnya sudah dalam rancangan dan rencana Allah SWT. Seperti contoh, : “ Kebetulan, kemarin, saya mendapatkan hadiah lima ribu rupiah pada kemasan jajan yang saya beli”. Dari kalimat dan pernyataan ini dapat kita lihat bahwa memberikan sebuah dikte dan arti bahwa kejadian yang barusan menimpa seseorang tersebut adalah kebetulan. Apakah sebuah rejeki itu termasuk kebetulan? Bukankah rejeki itu memang sudah ditetapkan Allah SWT? Mengapa kita tidak meletakkan rasa syukur kita kedalamnya?

Nah, sebenarnya segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bukanlah kebetulan semata, jadi orang orang yang dapat menerima kebetulan tersebut dalam wujud kebenaran dari Allah SWT kepada kita adalah orang orang yang pandai bersyukur. Semoga, dengan segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita, kita dapat menjadi manusia yang pandai bersyukur, yang mudah untuk mengucapkan Alhamdulillah, agar kita tahu bahwa betapa banyak nikmat yang kita peroleh setiap harinya, bahkan setiap detiknya, dan dapat menjadikan kita lebih beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, Aamiin.

Kita berpikiran bahwa kejadian yang telah menimpa kita tadi atau kemarin, itu adalah kebetulan, sebetulnya sah sah saja. Mengapa kita mengatakan bahwa kejadian ini sebuah kebetulan?, karena kita mengalami hal tersebut saat itu, baru saat itu, berbeda dengan sebuah kebenaran yang bisa kita berkata bahwa ini sebuah kebenaran, mengapa? Karena kita telah mengalami, atau setidaknya diberitahu bahwa kejadian itu benar, simple nya begini, kejadian dikatakan kebetulan karena kita yang mengalami hal tersebut dan masih baru kita alami saat itu, dan belum tentu dialami oleh orang lain, baik dalam masa lampau, atau pada saat itu juga. Sedangkan kebenaran adalah kejadian yang entah kita sudah mengalami hal tersebut, dan kita berkata itu sebuah kebenaran karena terdapat data dan fakta yang telah juga dirasakan oleh orang lain pada masa lampau atau pada saat itu, atau kejadian yang walau kita tidak pernah mengalaminya, namun terdapat fakta yang pernah terjadi kepada orang lain dengan konteks yang sama, kejadian yang sama, baik itu pada masa lampau, maupun terjadi pada saat itu. Seperti contoh, kita menemukan orang yang kita cari cari, dan kita sangat memerlukan bantuannya, apapun itu, dan menyisipkan kata kebetulan, nah, ini terjadi karena kejadian menemukan orang yang dicari cari tersebut, terjadi baru pertama kali pada saat itu, bukan terjadi untuk kedua kalinya, atau pernah terjadi sebelumnya, untuk subjek,dan ini kejadian yang benar dan betul, bukan kesalahan. Contoh lagi, ketika kita bahwa seseorang yang berbuat salah terkena hukuman, itu adalah sebuah kebenaran dan benar adanya. Mengapa? Karena kejadian itu baru terjadi dan dialami oleh subjek saat itu, atau masa lampau, namun sudah pernah terjadi sebelumnya dengan permasalahan dan hal yang sama, walau itu terjadi pada saat itu, atau pada masa lampau, baik dialami oleh subjek, maupun dialami oleh orang lain. Jadi kebenaran merupakan sesuatu yang memang benar benar ada fakta, dan semua orang percaya, walau tidak semua pernah mengalaminya, dan kebenaran yang sesungguhnya adalah yang datangnya dari Allah SWT, bukan dari manusia. Mengapa kita menyebut sebuah kejadian itu adalah kebetulan? Padahal semua itu sudah ada dalam rencana Allah SWT? Karena apa?, karena kita berfikir dalam logika manusia, dalam ranah manusia, karena kita hamba-Nya, bukan dalam ranah Allah SWT. Beberapa waktu lalu, kita sempat tahu bahwa terdapat beberapa pernyataan dari bapak Rocky Gerung dalam sebuah acara forum diskusi dalam sebuah acara tv swasta nasional, beliau mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Beliau pun bukan tanpa alasan, ini dikarenakan terdapat ayat ayat dalam kitab suci yang masih belum terpapar di dunia saat ini. Nah, ini pasti menjengkelkan banyak pihak, salah satunya dalam sebuah video dari ustad felix siauw, yang dapat menjelaskan dengan baik mengapa pak Rocky Gerung berkata semacam itu, dalam beberapa perkataan dari ustad felix siauw mengatakan bahwa beliau mengatakan kitab suci itu fiksi dikarenakan beliau menggunakan logika nya, menggunakan ranah manusia, bagaimana dengan ranah tuhan, tentu lain. Tentu kita sebagai umat islam tidak mau dikatakan bahwa kitab suci kita, Al -  Qur’an adalah fiksi.  Al – Qur’an adalah satu satunya kebenaran yang datangnya dari Allah SWT dan percaya pasti terjadi apa yang ada dalam Al -  Qur’an tersebut dengan didukung Al -  Hadist. Kita stop pembahasan tentang ini agar tidak kemana mana, untuk lebih lengkapnya, anda dapat melihat tayangan dan video lengkapnya dalam link youtube yang saya tempatkan dalam daftar sumber.

Jadi, intinya adalah kebenaran ini sudah ada atau memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan kebenaran itu memang benar-benar nyata, karena kebenaran itu sendiri sudah Allah yang menetapkan dan kebenaran ini tidak dapat di tambah atau dirubah dari aslinya. Tetapi beda dengan kebetulan yang datangnya dari pendapat-pendapat seseorang dari mulut ke mulut yang kapan pun itu bisa di tambah atau pun dirubah dari aslinya. Kebetulan ini sangatlah beda dengan kebenaran, yang mana dari keduanya memiliki sumber yang berbeda. Ada juga kebenaran yang salah seperti kebenaran teori darwin yang menyebutkan bahwa manusia itu keturunan atau evolusi dari kera. Itu kebenaran yang salah karena kebenaran manusia itu keturunan dari nabi adam dan siti hawa.

1. Kebenaran
Makna Kebenaran atau AL-HAQ secara etimologi Lafadz "Hak" memiliki beberapa arti yang berarti ketetapan dan kepastian. Kebenaran yang terkait oleh suatu norma yang telah di atur, hal yang bisa diukur atau distandarisasi. Sedangkan, kebetulan tidak bisa ukur atau distandarisasi karena suatu kebetulan merupakan suatu hal yang terjadi tanpa kita ketahui sebelumnya bahwa itu akan terjadinya. Bicara tentang kebenaran, kebenaran ada yang bersifat mutlak yang datangnya dari Allah SWT. Kebenaran yang ada diilmu pengetahuan sifatnya masih sementara sebelum ada atau ditemukan bukti baru. Artinya mereka-mereka yang belum yakin terhadap kebenaran yang datangnya dari Allah akan membuktikannya terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar mempercayainya.

Sebagai contoh kebenaran yang terkait dengan kehidupan manusia tentang teori evolusi manusia yang menuai kontroversi yang berawal dari teori evolusi Darwin yang menjelaskan bahwa manusia awalnya menyerupai kera bahkan sama dengan kera. Namun, sebagai umat Islam tidak boleh percaya dengan teori tersebut karena jika kita pikir lebih lanjut bahwa di Al-Qur’an telah dijelaskan di Surat Al Hijr (Qs 15). Manusia diciptakan Allah Swt. dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan diberi ruh. Bukannya berasal dari kera yang berevolusi.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Qs 15:28-29)

Perkembangan berikutnya bisa dilihat di Surat An Nisaa’ (Qs 4). Dari diri nabi Adam lalu diciptakan isterinya, kemudian mereka berkembang biak sampai banyak. Dan sampai sekarang tidak berubah. Tidak ada evolusi genetika.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs 4:1)

Dan terakhir kebenaran ilmiah mengenai penciptaan manusia di surah At-Tin 95:04 Allah berfirman

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. 95:04)
Sudah jelas dalam Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia sudah dalam bentuk yang sebaik-baiknya jadi manusia itu tidak sama dengan kera dan hewan yang lainnya. Jadi, kesimpulannya adalah Allah telah menciptakan kita dengan kebenaran sebagai umat manusia seyogyanya yang dijelaskan pada Al-Qur’an.

2. Kebetulan

Kebetulan yang bersifat Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi mau bekerja di sebuah perusahaan minyak karena diberi gaji tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau bekerja di perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu mendapatkan gaji tinggi.


Kebetulan yang bersifat Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik karena ada fakta-fakta mendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya, Jurusan teknik elektro, teknik mesin, dan teknik sipil Undip ada di Tembalang. Jadi Fakultas Teknik Undip ada di Tembalang.


Kebetulan yang bersifat Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori koheren menggunakan logika deduktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Undip harus mengikuti kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Undip, jadi harus mengikuti kegiatan Ospek.
Demikian resume saya tentang perbedaan kebenaran dan kebetulan, tentu komentar dan koreksi pembaca sangat diperlukan mengingat keterbatasan kemampuan penulis untuk membuat artikel ini, semoga apa apa yang telah saya tulis berkaitan dengan resume perbedaan kebenaran dan kebetulan bermanfaat bagi kita semua.

Billahitaufik wal hidayah
Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarakatuh





Sumber :
http://insaan-ainul-yaqien.blogspot.com/2016/09/perbedaan-kebenaran-dan-kebetulan.html?m=1
http://youlandavoniallesia.blogspot.com/2016/10/perbedaan-kebetulan-dan-kebenaran.html?m=1
https://yuandaaddress.blogspot.com/2016/10/perbedaan-kebenaran-dan-kebetulan_15.html?m=1
https://m.youtube.com/watch?v=ystUnSqVnvA
https://m.youtube.com/watch?v=tFW7gMC6RrE

Comments

loading...

Popular posts from this blog

PAI : Kewajiban Belajar

PAI : Ibadah Mahdhah

PAI : Manusia Makhluk Sosial

Qunut

PAI : Manusia Makhluk Belajar (Part 2)