PAI : Manusia Makhluk Otonom

Manusia Makhluk Otonom 
Jum'at, 5 Oktober 2018 





 


Assalamualaikum Warohmatullah Wabarakatuh

Pertama tama marilah kita mengucap syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT, yang mana karena limpahan rahmat dan hidayah nya kita masih diberikan kesehatan dan keselamatan, dan dapat membaca artikel saya selanjutnya.

Kedua shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW., yang mana kita tunggu tunggu syafa’at nya pada akhir zaman.

Baik, pembaca sekalian, saya disini akan memposting tentang pertemuan ke empat saya namun ini adalah materi ke lima saya dalam Perkuliahan Agama Islam. Saya harap postingan saya di blog ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya, Aamiin.

Sebagai makhluk otonom, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sikap, dengan kata lain, ia adalah makhluk yang mandiri. Secara etimologi, Otonomi berasal dari bahasa Yunani “autos” yang artinya sendiri, dan “nomos” yang berarti hukum atau aturan, jadi pengertian otonomi adalah pengundangan sendiri. Otonom berarti berdiri sendiri atau mandiri. Jadi setiap orang memiliki hak dan kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri. Ia harus dapat menjadi tuan atas diri. Berbicara mengenai manusia bukanlah sesuatu yang mudah dan sederhana, karena manusia banyak memiliki keunikan. Keunikan tersebut dinyatakan sebagai kodrat manusia.

Manusia sulit dipahami dan dimengerti secara menyeluruh tetapi manusia mempunyai banyak kekuatan-kekuatan spiritual yang mendorong seseorang mampu bekerja dan mengembangkan pribadinya secara mandiri. Arti otonom adalah mandiri dalam menentukan kehendaknya, menentukan sendiri setiap perbuatannya dalam pencapaian kehendaknya.

     Allah telah memberikan akal budi yang membuat manusia tahu apa yang harus dilakukannya dan mengapa harus melakukannya. Dengan kemampuan akal budinya, manusia mampu membedakan hal baik dan buruk dan membuat keputusan berdasarkan suara hatinya dan mampu bersikap kritis terhadap berbagai pilihan hidup. Manusia adalah makhluk hidup, yang mampu memberdayakan akal budinya, maka manusia mempunyai berbagai kemampuan, yakni mampu berpikir, berkreasi, berinovasi, memberdayakan kekuatannya sehingga manusia tidak pernah berhenti.

      Allah memberi kebebasan kepada manusia. Meskipun kebenaran itu dari Allah, namun Allah tidak pernah memaksa manusia untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang ingin beriman, maka imanlah. Siapa yang ingin kafir, maka kafirlah. Pun demikian, Allah menciptakan manusia menurut fitrah beragama tauhid. Semua bayi yang lahir, mempunyai kesiapan untuk beragama Islam. Ketika ia besar, ia menjadi kafir atau memeluk agama selain Islam, maka itu adalah karena didikan dari orang tuanya.

      Karena sesungguhnya, Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Jika ia sampai masuk ke neraka, itu tak lain karena ia sendirilah yang telah menganiaya dirinya sendiri.
Allah berfirman,

“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS Al Insyiqaaq 24)

     Adanya perbedaan agama di dunia ini, iman atau kafir, itu adalah pilihan orang masing-masing. Di dunia ini, Allah tidak membedakan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir dalam hal memberi rezeki.
Pernah Nabi Ibrahim As berdoa sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa:

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS Al Baqarah 126)

     Banyak kita dapati, orang-orang kafir yang sukses dalam urusannya dengan duniawi. Perlu kita ketahui, bahwa Allah-lah yang telah menyediakan rezeki itu kepada semua manusia, entah ia kafir atau beriman. Jangankan manusia, pada binatang melata pun Allah juga memberi rezeki itu.

Kita sebagai orang yang beriman, tidak boleh terpedaya dengan kesuksesan orang kafir di dunia ini. Karena Allah berfirman,

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali Imran 197)

Manusia adalah makhluk tuhan yang otonom, pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonik jiwa raga dan eksis sebagai individu yang masyarakat. manusia lahir dalam keadaan yang serba misterius. artinya, sangat sulit untuk diketahui mengapa, bagaimana, dan untuk apa kelahirannya itu. yang pasti manusia dilahirkan oleh "Tuhan" melalui manusia lain (orang tua), sadar akan hidup dan kehidupannya, dan sadar pula akan tujuan hidupnya (kembali kepada Tuhan). kenyataan itu memberikan kejelasan bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah.

Keberadaanya sangat bergantung kepada PenciptaNya (Tuhan). Segala potensi dirinya ditentukan secara mutlak oleh Sang Pencipta. Segala potensi diri ditentukan secara mutlak oleh Sang Pencipta. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Sang Pencipta kecuali Pasrah.

1. Manusia dan Kehidupannya Sebagai makhluk Tuhan yang bebas dan otonom, berjiwa dan berbadan, sekaligus makhluk individu dan makhluk sosial, manusia selalu bergerak dinamis ke arah suatu tujuan yang diinginkan. Keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan bertentangan secara mtlak dengan keberadaanya sebagai makhluk otonom yang bebas dan lepas dari Tuhan. selanjutnay hakikat pribadi manusia sebagai jiwa dan raga mempunai kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Jiwa dan raga sering mempunyai kebutuhan selaras dan seimbang, tetapi kadang-kadang bertolak belakang. Untuk menyelaraskan kebutuhan jiwa dan raga, manusia harus memperhatikan batas-batas yang sesuai, bukan berlebih-lebihan. dengan demikian, pemenuhan kebutuhan raga bisa memberikan ketenangan jiwa dan kesegaran raga.

2. Manusia sebagai Makhluk Berfikir Manusia mempunyai keahlian lain dibanding dengan makhluk hidup yang lain, yaitu berfikir. Perkembangan pemikiran manusia yang semakin fungsional-pragmatis mendominasi kehidupan manusia. Oleh karena itu, semestinya manusia sadar pada keberadaan dirinya sebagai makhluk Tuhan dan makhluk Sosial. Dengan demikian hasil pemikiran senantiasa dipertimbangkan nilai-nilai minimalnya sehingga mampu meluruskan pembelokkan-pembelokkan pemikiran yang fungsional-pragmatis tersebut.
Allah selalu memberikan nikmat kepada setiap mahluknya diantaranya adalah sebagai berikut:

      1. Nikmat Fitriyah.
Nikmat Fitriyah adalah nikmat yang ada pada diri kita atau personal kita. Misal: Allah memberikan kita hidup ini, tangan, kaki, wajah yang menawan, mata, telinga dan anggota tubuh yang lain. Ini wajib kita syukuri. Dan janganlah angkuh seandainya kita diberikan rupa yang menarik. Syukurilah bahwa itu nikat yang diberikan oleh Allah semata-mata untuk hak-hal kebaikan.
      2. Nikmat Ikhtiyariyah.
Nikmat ini berupa nikmat yang kita peroleh atas usaha kita. Misalnya: Harta yang banyak, Kedudukan yang tinggi, Ilmu yang banyak, Pengaruh yang besar, Posisi, Jabatan, Tanah, Mobil dan lain-lain yang kita peroleh atas usaha kita. Nikmat ini harus kita syukuri. Sedekahkan harta yang kita miliki dan pergunakan ke jalan yang diridhoi Allah. Jika menjadi pemimpin dengan jabatan yang tinggi, jangan kita salah gunakan jabatan tersebut, karena itu semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

3. Nikmat Alamah.
Nikmat alam sekitar kita. Kita tidak bisa hidup jika Allah tidak memberikan nikmat alamiah ini. Misalnya: Air, Udara, Tanah dan lain-lain. Mari kita syukuri semua ini dengan menjaga alam ini dari kerusakan. Menjaga udara dari pencemaran, banyak-banyak menanam pohon dan lain-lain.

4. Nikmat Diiniyah.
Nikmat Diiniyah adalah nikmat Agama Islam. Nikmat Iman. Bayangkan jika kita terlahir bukan dari rahim seorang muslimah? Mungkin saat ini kita menjadi kafir. Maka syukurilah nikmat-nikmat diin yang diberikan Allah kepada kita dengan menjalankan perintah-perintah agama serta menjauhi larangan Allah SWT.

5. Nikmat Ukhrowiyah.
Nikmat Ukhrowi adalah nikmat akhirat. Nikamt inilah yang akan kita petik nanti jika telah dihisab di yaumil mahsyar. Nikmat ini tergantung dari apa yang kita perbuat didunia ini. Jika semua nikmat diatas telah kita terima dan kita syukuri dengan baik, maka nikmat ukhrowi ini yang akan kita dapatkan dan rasakan jika nanti sudah di alam akhirat.

Harus kita sadari bahwa hidup didunia ini hanyalah sementara. Ada batas waktu yang telah ditentukan Allah dan jika telah tiba waktunya kita semua akan mati. Begitu juga nikmat yang diberikan Allah adalah bukan milik kita melainkan titpan semata. Maka sudah sepantasnyalah kita menjaga dan bersyukur atas "titipan" itu karena suatu saat itu semua akan dikembalikan kepada Allah SWT.

NIKMAT YANG SERING DILUPAKAN :

Sehat
Banyak sekali diantara dari kita yang lupa akan nikmat mendasar yang diberikan oleh Allah SWT ini. Tak Terkecuali sang penulis. Seharusnya dengan kita diberi lebih kesehatan oleh Allah SWT., kita lebih mudah untuk  mengucap syukur, kita lebih perhitungan dan mengeluh ketika kita sakit, tapi kebanyakan dari kita kurang bersyukur, berapa waktu sehat kita, dan berapa perbandingan antara waktu sehat kita dan waktu sakit kita.

Waktu Senggang
Nah, waktu senggang ini lah yang kita sering lupa untuk menjadikan setiap menit, bahkan setiap detik waktu hidup kita untuk hal hal yang bermanfaat,  dan berguna, baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Semoga dengan makin bertambahnya umur kita, dapat menjadikan sikap kita semakin dewasa dan terus memanfaatkan waktu senggang kita.

BEBERAPA NIKMAT ALLAH LAINNYA :
1. Diberikan anggota tubuh yang lengkap. Sebagian besar orang baru
     menyadari kenikmatan ini setelah dikurangi oleh Allah. Nikmat anggota badan
     ini, akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
2. Diberikan kesehatan. Nikmat ini tidak bisa dinilai dengan uang. Jika
     kita sakit, berlembar-lembar uang kita keluarkan. Dua kenikmatan yang
     kebanyakan manusia lupa : sehat dan waktu luang.
3. Nikmat harta. Orang yang bersyukur kepada Allah akan menggunakan harta
    sesuai dengan apa yang telah di perintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Nikmat Keamanan. Orang yang tidak mencampurkan keimanan dan kedholiman
     maka baginya ‘keamanan’. Dengan
     nikmat keamanan ini, kita bisa beribadah ataupun menuntut ilmu dengan perasaan
     tenang.
5. Hidayah beragama Islam dan nikmat iman. SUBHAANALLAH !!, ini adalah nikmat
    yang paling besar. Mengapa demikian? Karena dengan nikmat ini kita bisa
     membedakan kejahatan dan kebaikan, mana yang diperbolehkan oleh agama atau
     manakahyang tidak diperbolehkkan.

  CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH:
1.     Mensyukuri nikmat Allah dengan melalui hati. Cara bersyukur kepada Allah dengan hati ini maksudnya adalah dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya hanya dari Allah SWT semata.
2.     Mensyukuri nikmat Allah dengan melalui lisan kita. Caranya adalah dengan kita memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
3.     Mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan kita. Yaitu perbuatan dalam bentuk ketaatan kita menjalankan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. PerintahNya termasuk segala hal yang yang berhubungan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah itu yang bersifat wajib, sunnah maupun mubah.
Anggapan kebanyakan orang, bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugrah besar atau terbebas dari masalah besar adalah hal yang merupakan suatu kekeliruan yang besar. Padahal jika kita merenung sejenak, maka kita akan bisa menyadari bahwa kita semua ini dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya. Dalam hitungan.

CARA MENUMBUHKAN PERASAAN SYUKUR :
1). Merenung (bukan membayangkan)
2) Lihatlah yang memberi nikmat, bukan besar kecilnya nikmat. Jika engkau mendapatkan nikmat dari Allah, jangan lihat besar kecilnya nikmat, tapi
lihatlah yang memberi nikmat (Rabbul ’alamin).
3). Lihatlah yang berada di bawah kita (kaitannya dengan nikmat)
4). Ingatlah keutamaan syukur. Orang beriman yakin, jikalau bersyukur
kepada Allah, maka akan mendapatkan keutamaan.
5). Sadarilah bahwa yang mampu memberikan hidayah untuk bersyukur hanyalah
Allah semata.
6).Mensyukuri nikmat Allah dengan melalui hati. Cara bersyukur kepada Allah dengan hati     ini maksudnya adalah dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya hanya dari Allah SWT semata.
7).Mensyukuri nikmat Allah dengan melalui lisan kita. Caranya adalah dengan kita memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
8).Mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan kita. Yaitu perbuatan dalam bentuk ketaatan kita menjalankan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. PerintahNya termasuk segala hal yang yang berhubungan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah itu yang bersifat wajib, sunnah maupun mubah.

Demikian yang dapat saya tulis dalam postingan kali ini, semoga materi dalam blog saya ini bermanfaat bagi kita semua, dan kami tentu mengharap komentar dan suka untuk menambah pengetahuan kami, baik dalam materi, susunan  kata, tata letak, dan lain lain

Billahitaufik wal hidayah
Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarakatuh






Sumber :
http://warinairriana.blogspot.com/2016/10/resume-manusia-sebagai-mahluk-otonom.html?m=1

Comments

Post a Comment

loading...

Popular posts from this blog

PAI : Kewajiban Belajar

PAI : Ibadah Mahdhah

PAI : Manusia Makhluk Sosial

Qunut

PAI : Manusia Makhluk Belajar (Part 2)