PAI : Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sejarah
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Senin, 3
Desember 2018
Pertama tama marilah kita mengucap syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT. Yang mana karena limpahan rahmat dan hidayah nya kita masih diberikan kesehatan dan keselamatan, Aamiin Yaa rabbal alamin.
Kedua, shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang kita tunggu tunggu syafa’at nya pada akhir zaman.
Baik, pembaca sekalian, kali ini saya akan memposting materi tentang, “ Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. “. Semoga materi ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
1. Pengertian
Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (Arab: مولد النبي, Mawlid an-Nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabu Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara substansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Secara etimologis, Maulid Nabi Muhammad SAW bermakna (hari), tempat atau waktu kelahiran Nabi yakni peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Secara terminologi, Maulid Nabi adalah sebuah upacara keagamaan yang diadakan kaum muslimin untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Hal itu diadakan dengan harapan menumbuhkan rasa cinta pada Rasululllah SAW.
Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW. wafat. Secara substansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW., dengan cara menyanjung Nabi, mengenang, memuliakan dan mengikuti perilaku yang terpuji dari diri Rasulullah SAW.
Al-Qasthalani sebagaimana dikutip oleh Ja’far Murtadha al-‘Amaly berkata, bahwa selama umat Islam masih melakukan perayaan peringatan Maulid Nabi dan melaksanakan pesta-pesta, memberikan sedekah pada malam itu dengan berbagai macam kebaikan, menampakkan kebahagiaan, menambahkan perbuatan yang baik, melaksanakan pembacaan sejarah Maulid Nabi, dan memperlihatkan bahwa Maulid tersebut mendatangkan berkah kepada mereka dengan keutamaan yang bersifat universal… sampai pada perkataannya. “… maka Allah pasti memberikan rahmat pada seseorang yang mengadakan perayaan Maulid tersebut sebagai hari besar, dan bila penyakit hatinya bertambah, ia akan menjadi obat yang dapat melenyapkannya.”
Ibn Al Hajj dalam bukunya, Al Mudkhal, menggambarkannya secara ekstrem. Ia menentang keras anggapan bid’ah, atau penurut hawa nafsu, bagi orang yang mengadakan peringatan Maulid. Menurutnya bahwa sekalipun para penyanyi dengan alat-alat musiknya yang diharamkan turut meramaikan peringatan maulid, maka Allah tetap memberikan pahala, karena tujuannya yang baik.
Ibnu Ubaid dalam karyanya: Rasailuhu al-kubra menggambarkan sebagai berikut:
”…. menurut saya, peringatan Maulid adalah salah satu hari besar dari sekian banyak hari besar lainnya. Dengan semua yang dikerjakan pada waktu itu, karena merupakan ungkapan dari rasa senang dan gembira karena adanya hari besar tersebut, dengan memakai baju baru, mengendarai kendaraan yang baik, adalah masalah mubah (yang dibolehkan) tak seorang pun yang menentangnya.”
Ibnu Hajar berkata,
“Apa saja yang dikerjakan pada Maulud itu, dengan mencari pemahaman arti syukur kepada Allah, membaca al-Qur’an, sejarah hidup Nabi, makan-makanan, bersedekah, menyanyikan sesuatu yang bersifat pujian kepada Nabi dan kezuhudannya, dan kalaulah hal itu diikuti dengan permainan-permainan yang diperbolehkan, maka tentu hukumnya peringatan itu mubah, dengan tetap tidak mengurangi nilai kesenangan pada hari itu. Hal itu tidak dilarang dan perlu di teruskan. tapi kalau diikuti dengan hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan, maka dilarang. Begitulah apa yang menjadi perbedaan dengan yang pertama.”
2. Peringatan Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah
Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh mayoritas kaum muslimin untuk mengingat, menghayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah. Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. Mereka bersama-sama membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantunkan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah serta diisi pula dengan ceramah agama. [al-Bakri bin Muhammad Syatho, I`anah at-Thalibin, Juz II, hal 364]
Peringatan maulid Nabi seperti gambaran di atas tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah maupun sahabat. Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan mengklaim bid`ah pelaku perayaan maulid. Menurut kelompok ini seandainya perayaan maulid memang termasuk amal shaleh yang dianjurkan agama, mestinya generasi salaf lebih peka, mengerti dan juga menyelenggarakannya. [Ibn Taimiyah, Fatawa Kubra, Juz IV, hal 414].
Oleh karena itulah, penting kiranya untuk memperjelas hakikat perayaan maulid, dalil-dalil yang membolehkan dan tanggapan terhadap yang membid`ahkan.
Bukan Bid'ah yang dilarang
Telah banyak terjadi kesalahan dalam memahami hadits Nabi tentang masalah bid`ah dengan mengatakan bahwa setiap perbuatan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah perbuatan bid`ah yang sesat dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka dengan berlandaskan pada hadist berikut ini,
وإيَّاكم ومحدثات الأمور؛ فإنَّ كلَّ محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
Artinya: Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid`ah dan setipa bid`ah adalah sesat”. [HR. Ahmad No 17184].
Pemahaman Hadits ini bisa salah apabila tidak dikaitkan dengan Hadits yang lain, yaitu,
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Artinya: Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak. [HR al-Bukhori No 2697]
Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا dalam hadits di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena kreasi dalam masalah dunia diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Sedangkan kreasi apa pun dalam masalah agama adalah tidak diperbolehkan. [Yusuf al-Qaradhawi, Bid`ah dalam Agama, hal 177]
Dengan demikian, maka makna hadits di atas adalah sebagai berikut,
“Barang siapa berkreasi dengan memasukkan sesuatu yang sesungguhnya bukan agama, lalu diagamakan, maka sesuatu itu merupakan hal yang ditolak”
Dapat dipahami bahwa bid`ah yang dhalalah (sesat) dan yang mardudah (yang tertolak) adalah bid`ah diniyah. Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah keagamaan dan instrumen keagamaan. Sama halnya dengan orang yang tidak memahami format dan isi, sarana dan tujuan. Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya. Padahal perayaan maulid hanyalah merupakan format, sedangkan hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang diisi dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an maupun Hadits.
Dan lafadz كل pada hadits tentang bid`ah di atas adalah lafadz umum yang ditakhsis. Dalam Al-Qur’an juga ditemukan beberapa lafadz كل yang keumumannya di takhsis. Salah satu contohnya adalah ayat 30 Surat al-Anbiya`:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَي
Artinya: Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (QS al-Anbiya': 30)
Kata segala sesuatu pada ayat ini tidak dapat diartikan bahwa semua benda yang ada di dunia ini tecipta dari air, tetapi harus diartikan sebagian benda yang ada di bumi ini tercipta dari air. Sebab ada benda-benda lain yang diciptakan tidak dari air, namun dari api, sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rahman ayat 15:
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَار
Artinya: Dan Allah menciptakan jin dari percikan api yang menyala.
Oleh karena itulah, tidak semua bid`ah dihukumi sesat dan pelakunya masuk neraka. Bid`ah yang sesat adalah bid`ah diniyah, yaitu meng-agamakan sesuatu yang bukan agama. Adapun perayaan maulid Nabi tidaklah termasuk bid`ah yang sesat dan dilarang karena yang baru hanyalah format dan instrumennya.
Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebutkan redaksi sebagai berikut:
أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً" وَقَالَ: "وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ.
“Hukum Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barang siapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih)”.
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, mengatakan:
وَالْحَاصِلُ اَنّ الْاِجْتِمَاعَ لِاَجْلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ اَمْرٌ عَادِيٌّ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْعَادَاتِ الْخَيْرَةِ الصَّالِحَةِ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَي مَنَافِعَ كَثِيْرَةٍ وَفَوَائِدَ تَعُوْدُ عَلَي النَّاسِ بِفَضْلٍ وَفِيْرٍ لِاَنَّهَا مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا بِاَفْرِادِهَا.
Artinya: Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Saw merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, hal. 340]
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid Nabi hanya formatnya yang baru, sedangkan isinya merupakan ibadah-ibadah yang telah diatur dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Oleh karena itulah, banyak ulama yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid`ah hasanah dan pelakunya mendapatkan pahala.
Dalil-dalil Syar`i Perayaan Maulid Nabi
Di antara dalil perayaan maulid Nabi Muhammad menurut sebagian Ulama` adalah firman Allah:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad Saw) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58)
Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Terjadi perbedaan pendapat diantara ulama dalam menafsiri الفضل dan الرحمة. Ada yang menafsiri kedua lafadz itu dengan Al-Qur’an dan ada pula yang memberikan penafsiran yang berbeda.
Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa yang dimaksud dengan الفضل adalah ilmu, sedangkan الرحمة adalah Nabi Muhammad SAW. Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi SAW ialah karena adanya isyarat firman Allah SWT yaitu,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Ambiya’:107).”[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani, Juz 11, hal. 186]
Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ialah dianjurkan berdasarkan firman Allah SWT pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq Fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah, hal 6-7]
Dalam kitab Fathul Bari karangan al- Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa tiap hari senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari, Juz 11, hal 431]
Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits di antaranya Shohih Bukhori, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi`bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, Juz 7, hal 9, Sunan Baihaqi al-Kubra, Juz 7, hal 9, Syi`bul Iman, Juz 1, hal 443].
3. Penjelasan Para Ulama Mengenai Peringatan Maulid Nabi SAW.
Bulan Rabiul Awal ini merupakan bulan yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa?, pada bulan tersebut manusia terbaik, hamba Allah dan utusan Allah termulia dilahirkan di dunia. Pada 1400 abad yang lalu, tepatnya pada hari Senin 12 Rabiul Awal 576 M, baginda Nabi Muhammad Saw dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah Radliya Allahu ‘anhuma.
Setiap tahun hari kelahirannya dirayakan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Berbagai acara mulai di tingkat desa hingga istana negara menyelenggaraan perayaan maulid. Lantas bagaimana pendapat para ulama’ 4 madzhab mengenai tradisi perayaan maulid tersebut? Berikut ini kami rangkum beberapa statemen ulama’ mengenai tradisi tahunan tersebut.
Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan:
هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ
“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.
Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:
يُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالْاِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَسَرَّاتِ
“Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.
Dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan:
اِعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْبِدَعِ الْمَحْمُوْدَةِ عَمَلَ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ مِنَ الشَّهْرِ الَّذِيْ وُلِدَ فِيْهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
“Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw”.
Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridla Allah Swt. Al-Imam Ibnu al-Haj ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengatakan:
مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَحَلٍّ أَوْ مَسْجِدٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ أَهْلَ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
“Tidaklah suatu rumah atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi Saw, kecuali malaikat mengelilingi penghuni tempat tersebut dan Allah memberi mereka limpahan rahmat dan keridloan”.
Al-Imam Ibnu Taimiyyah dari kalangan madzhab Hanbali mengatakan:
فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
“Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai hari raya telah dilakukan oleh sebagian manusia dan mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah Saw”.
Bahkan merayakan maulid Nabi bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang efektif untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang terdapat banyak kemunkaran. Al-Syaikh al-Mubasyir al-Tharazi menegaskan:
إِنَّ الْاِحْتِفَالَ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ أَصْبَحَ وَاجِبَا أَسَاسِيًّا لِمُوَاجَهَةِ مَا اسْتُجِدَّ مِنَ الْاِحْتِفَالَاتِ الضَّارَّةِ فِيْ هَذِهِ الْأَيَّامِ.
“Sesungguhnya perayaan maulid Nabi menjadi wajib yang bersifat siyasat untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang membahayakan pada hari ini”.
Dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi merayakan maulid Nabi Saw merupakan bid’ah yang baik (disunahkan), meski tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi Saw, karena di dalamnya terdapat sisi mengagungkan dan kecintaan kepada Rasulullah Saw.
Bahkan, hukum merayakan maulid bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang paling efektif untuk mengimbangi acara-acara yang membahayakan moral bangsa.
4. Sejarah
Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:
Sultan
Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Dia
merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan,
alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.
Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, dia mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, Al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-Nadzir”. Karya ini kemudian dia hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar.
Para ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadis telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti Al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H), Al-Hafizh As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Hafizh Al-Sakhawi (w. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Imam Al-Nawawi (w. 676 H), Al-Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan Mufti Beirut Lubnan yaitu Syeikh Mushthafa Naja (w. 1351 H), dan terdapat banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan Al-Imam Al-Suyuthi menulis karya khusus tentang Maulid yang berjudul “Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid”. Karena itu perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.
Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib.
Ahmad bin
‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
صَلَاحِ
الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ
الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ
Artinya:
“Sholahuddin-lah
yang menaklukkan Mesir. Dia menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran
Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang
menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”
Dalam
perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
فَتَحَهَا
مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ
الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا
وَيَظْهَرُ
Artinya:
“Negeri
Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu
Shalahuddin. Dia yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu,
berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Pada masa dia, akhirnya ilmu dan
ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.”
Sumber lain
mengatakan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun
sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah
mengenai Maulid Nabi.
Al Maqriziy,
seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak
perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari
kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid
Fatimah az-Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama
bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama
bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama
bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri,
perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim
panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al
Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah),
dan hari Rukubaat.”
Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustaz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).
Peringatan maulid Nabi saw, yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal,
masih menyisakan banyak pertanyaan. Penentuan tanggal 12 rabiul Awal
sebagai hari ulang tahun kelahiran Nabi Saw adalah hal yang masih
samar. Kesamaran sejarah tersebut Tersebut dari sejarah kalender dalam
Islam. Keinginan untuk mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw sendiri
baru muncul pada masa khalifah Umar bin Khattab, tepatnya pada tahun 638-an
Masehi (22-32 H). Saat itu, khalifah Umar ingin menjadikan penanggalan
Hijriyah sebagai sistem penanggalan resmi pemerintahan Islam pada
masanya. Namun, berbagai kata bisa muncul untuk dimula awal resmi itu. Para
sahabat menemukan kesulitan untuk menemukan hari kelahiran Nabi sebagai patokan
awal sistem penanggalan Hijriyah.
Di samping itu, tradisi orang Arab saat itu juga tidak terbiasa mencatatnya
dengan tulisan kerena kebiasaan menulis satu hal yang baru pada zaman
itu. Mereka juga tidak terbiasa dengan hisab tahun, meskipun beberapa
nama-nama bulan dalam kalender hijriyah saat itu telah dikenal. Meskipun
demikian mereka biasa mengingat cerita dengan peristiwa-peristiwa besar,
seperti penyerangan Ka'bah oleh tentara bergajah yang dipipin oleh Abrahah yang
bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Mayoritas ulama
berpendapat bahwa peringatan itu bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal Tahun
Gajah atau 20 April 571 Masehi.
Bukti asal-usul maulid ini, seorang pengkaji Islam dari Universitas Leiden
Belanda, Noco Kptein telah memaparkan dalam disertasinya tentang Maulid Nabi
saw. Dalam disertasi tersebut dipaparkan bahwa petunjuk maulid ini pertama
kali dilakukan pada masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir, tepat pada masa
pemerintahan al-Mu'izz li Dinillah yang berkuasa pada pertengahan buruk X
Masehi (953-975 M), atau empat abad setelah Nabi saw wafat . Kitab-kitab
yang menjadi rujukannya adalah T arikh al-Ihtifal bi al-Maulid
al-Nabawiy karya al-Imam al-Sandubi.
Al-Mu'izz li Dinillah adalah penguasa yang beraliran Syiah. Ia
memberikan kepada Maulid sebagai alat untuk mencapai kepentingan legitimasi
politik. Mereka ingin menguatkan diri dengan memiliki kinerja silsilah
dengan Nabi Muhammad saw.
Diversi Sunni, berdasrkan catatan ahli sejarah, petunjuk maulid pertama
kali digelar oleh penguasa Suriah, Sultan Attabiq Nuruddin (w. 575
H). Pada masa itu, Maulid dilaksanakan pada hari yang terpisah dengan
pembacaan syair-syair yang berisi pemujaan terhadap raja (ode) dan sangat
kental nuansa politiknya. Peringatan Maulid pernah memerintah di masa
pemerintahan al-Afdhal Amirul Juyusy, karena dianggap sebagai bid'ah yang
terlarang.
Kemudian pada masa sultan Salahuddin al-Ayyubi, prosesi dihidupkan kembali
ini. Bagi sebagian kalangan, Sultan Salahuddin al-Ayyubi adalah orang
pertama yang melakukan upacara maulid nabi. Hal ini bisa benar-benar jika
yang disebut adalah yang pertama, yaitu menghidupkan kembali yang telah mati
dan sama sekali bukan untuk kepentingan politik. Selain itu, perintah
maulid ini juga dilakukan untuk membakar semangat yang sedang berlangsung dalam
perang Salib melawan bangsa-bangsa Eropa (Perancis, Jerman, dan Inggris.) Pada
saat itu, Yerussalem dan Masjid al-Aqsha dikuasai oleh musuh, namun Islam banyak
yang kehilangan semangat juang. Pasukan Islam terpecah menjadi
kelompok-kelompok politik kecil, sementara kekhalifahan kemudian disebut
sebagai jabatan simbolik saja.
Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang melihat kedaan tersebut menilai bahwa
perintah maulid Nabi saw akan mampu menghidupkan kembali semangat juang
Muslim. Hal ini karena dalam pertanda hal-hal tersebut terbukti perjuangan
Rasulullah Saw dan para sahabat dalam berbagai serangan kaum kafir.
Pada musim haji tahun 579 H (1183 M), Sultan Salahuddin menginstruksikan
kepada seluruh jamaah haji agar sepulang dari menunaikan ibadah haji, mereka
memperingati Maulid Nabi setiap tanggal 12 Rabiul Awal melalui berbagai macam
kegiatan yang mampu membangkitkan semangat jihad pasukan Islam. Pada tahun
yang lalu, Sultan Salahuddin melaksanakan sayembara visual riwayat Nabi melihat
dengan menggunakan bahasa yang paling indah. Para ulama dan sastrawan
diundang untuk mengatakan sayembara tersebut. Akhirnya Syaikh Ja'far
al-Barzanji lah yang berhasil mengucapkan sayembara tersebut dengan karyanya
yang berjudul 'Iqd al-Jawahir (kalung
permata). Kemudian karya itu lebih dikenal dengan kitab al-Barzanji. Kitab
inilah yang populer dipakai untuk membuat laporan Nabi saw, termasuk di
Indonesia.
Pada akhirnya, perjuangan Sultan Salahuddin menunjukkan hasil positif,
semangat Islam pun bangkit kembali. Sultan berhasil menghimpun berbagai
kekuatan yang sebelumnya dilakukan lumpuh. Karenanya, pada 1187 M, atau
empat tahun pasca-peringatan ini, Yerussalem dapat direbut kembali dan masjid
al-Aqsha pun dapat dibebaskan dari cengkeraman musuh. Sultan Salahuddin
membantah klaim yang menyatakan bahwa petunjuk maulid adalah bid'ah yang
terlarang, karena peringatan ini adalah untuk syi'ar, bukan untuk ritual.
Al-Imam al-Suyuti dalam al- Hawi li al-Fatawa, menyebutkan
bahwa ide-ide itu adalah bukan salah satu dari karya Sultan Salahuddin, yang
tidak menemukan dari saudara iparnya, Muzhaffaruddin di Irbil, Irak
Utara. Muzhaffaruddin memperingati maulid untuk mengimbangi maraknya
perayaan natal yang dilakukan oleh kaum Nasrani di daerah
kekuasaannya. Pada mulanya, ia digulirkan hanya dengan berskala lokal saja
dan tidak rutin setiap tahun. Namun kemudian, Sultan Salahuddin
menjadikannya sebagai gerakan global untuk membangkitkan semangat Muslimin
dalam menghadapi tentara Salib.
Menciptakan sejarah sejarah Maulid Nabi, menarik kiranya Jika semangat
Maulid tidak hanya dijadikan sebagai budaya atau tradisi biasa, tidak harus
kembalikan sebagai media syi'ar dan pemersatu, dan pembangkit semangat juang
Muslim. Dengan demikian, maulid dapat menjadi media tradisional Islam.
5. Perayaan di Indonesia
- Muludhen
Tradisi muludhen digelar oleh warga di Pulau Madura, Jawa Timur saat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam acara itu biasanya diisi dengan pembacaan barzanji (riwayat hidup Nabi) dan sedikit selingan ceramah keagamaan yang menceritakan kebaikan Sang Nabi semasa hidupnya untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup.
Tepat
tanggal 12 Rabiul Awal, masyarakat akan berduyun-duyun datang ke masjid untuk
merayakan Maulid Agung. Di luar Maulid Agung ini, orang masih merayakannya di
rumah masing-masing. Tentu tidak semua, hanya mereka yang memiliki kemampuan
dan kemauan.
Saat Maulid
Agung, para perempuan biasanya datang ke masjid atau musala dengan membawa
talam yang di atasnya berisi tumpeng. Di sekeliling tumpeng tersebut dipenuhi
beragam buah yang ditusuk dengan lidi dan dilekatkan kepada tumpeng. Buah-buah
itu misalnya salak, apel, anggur, rambutan, jeruk, dan lainnya.
Namun, belakangan tradisi ini mulai berubah. Yang mengelilingi tumpeng bukan lagi ragam buah-buahan, melainkan uang dan makanan instan lainnya. Keindahan tumpeng berbalut buah warna-warni mulai hilang dari pandangan.Pada saat pembacaan barzanji, tumpeng-tumpeng tersebut dijajarkan di tengah orang-orang yang melingkar untuk didoakan. Setelah selesai, tumpeng-tumpeng itu kemudian dibelah-belah dan dimakan bersama-sama. Para perempuan biasanya tidak ikut membaca barzanji, mereka hanya menyiapkan makanan untuk kaum laki-laki.
- Bungo Lado
Tradisi Bungo Lado (berarti bunga cabai) adalah tradisi yang dimiliki warga Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bungo lado merupakan pohon hias berdaunkan uang yang biasa juga disebut dengan pohon uang. Uang kertas dari berbagai macam nominal itu ditempel pada ranting-ranting pohon yang dipercantik dengan kertas hias.
Tradisi
bungo lado menjadi kesempatan bagi warga yang juga perantau untuk menyumbang
pembangunan rumah ibadah di daerah itu. Karenanya, masyarakat dari beberapa
desa akan membawa bungo lado. Pohon uang dari beberapa jorong (dusun) itu
kemudian akan dikumpulkan.
Uang yang
terkumpul biasanya mencapai puluhan juta rupiah dan disumbangkan untuk
pembangunan rumah ibadah. Tradisi maulid ini biasanya digelar secara bergantian
di beberapa kecamatan.
Tradisi bungo lado ini terkait erat
dengan profesi petani yang digeluti sebagian besar warga Sumbar. Di antara
hasil tani tersebut adalah tanaman cabai yang bagi masyarakat Minangkabau
disebut dengan lado. Cabai atau lado sebelum berbuah akan berbunga terlebih
dahulu. Semakin banyak bunganya tentu akan semakin banyak pula buahnya.Dalam
hal ini, sumbangan uang diumpamakan dengan bunga cabai tersebut. Sumbangan
bungo lado ini merupakan simbol dari rasa syukur atas nikmat yang diberikan
Allah.
- Ngalungsur Pusaka
Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terdapat upacara Ngalungsur, yaitu proses upacara ritual di mana barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang) setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat yang difokuskan di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan.
Di tempat
lain seperti Banten, kegiatan difokuskan di Masjid Agung Banten. Demikian pula
di tempat-tempat ziarah makam para wali, tradisi ini juga digelar.
Upacara yang dilakukan oleh juru kunci ini merupakan
bukti bahwa mereka masih melestarikan dan melaksanakan tradisi leluhurnya serta
mensosialisasikan keberadaan benda-benda pusaka peninggalan Sunan Rohmat
Suci.Pusaka tersebut merupakan simbol perjuangan dan perilaku Sunan Rohmat Suci
semasa hidupnya dalam memperjuangkan agama Islam. Benda-benda pusaka tersebut
dicuci dengan disaksikan oleh peserta upacara.
- Kirab Ampyang
Warga di Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah, juga memiliki tradisi tersendiri. Mereka melakukan kirab Ampyang di depan Masjid Wali. Pada awalnya kegiatan ini merupakan media penyiaran agama Islam di wilayah tersebut. Tradisi itu dilakukan oleh Ratu Kalinyamat dan suaminya Sultan Hadirin.
Tradisinya
dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan ampyang atau nasi dan krupuk yang
diarak keliling Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, sebelum menuju ke
Masjid Wali At Taqwa di desa setempat.
Masing-masing peserta, menampilkan sejumlah kesenian, seperti visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa pada saat berdirinya Desa Loram Kulon serta visualisasi sejarah pendirian Masjid Wali At Taqwa.Setelah sampai di Masjid Wali, tandu yang berisi nasi bungkus serta hasil bumi yang sebelumnya diarak keliling desa didoakan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga setempat untuk mendapatkan berkah.
- Keresen
Tradisi yang tidak kalah unik adalah Keresen, yaitu merebut berbagai hasil bumi dan pakaian yang digantung pada pohon keres. Tradisi ini dilakukan oleh sejumlah warga di Dusun Mengelo, Mojokerto, Jawa Timur. Berbagai hadiah tersebut melambangkan bahwa semua pohon di muka bumi sedang berbuah menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.
Tradisi
Keresan ini digelar setiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW. Pohon Keres berbuah lebat oleh aneka hasil bumi sebagai simbol
kelahiran Muhammad membawa berkah bagi umat Islam di seluruh dunia.
Tradisi
keresen juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya Nabi
Muhammad yang memberikan petunjuk ke jalan yang benar, yakni ajaran Islam.
- Panjang Jimat
Panjang Jimat adalah tradisi Maulid Nabi di Keraton Cirebon. Upacara dihadiri ribuan masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka sengaja datang ke 3 keraton hanya untuk menyaksikan proses upacara.
Peringatan
Maulid Nabi juga turut digelar di makam Sunan Gunung Jati, Kecamatan Gunung
Jati, Kabupaten Cirebon. Di makam tersebut juga dipadati oleh ribuan orang yang
sengaja ingin menghabiskan waktu pada malam Maulid Nabi.
Upacara
panjang jimat merupakan puncak acara peringatan Maulid Nabi di 3 keraton. Di
keraton Kanoman, upacara digelar sekira pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan 9
kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara
lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara panjang jimat.Di Keraton
Kanoman, prosesi panjang jimat juga diisi dengan arak-arakan kirab yang membawa
berbagai benda pusaka milik keraton dari Bangsal Prabayaksa menuju Masjid Agung
Kanoman. Prosesi itu dipimpin oleh Pangeran Patih Keraton Kanoman.
- Grebeg Maulud
Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Kata 'gerebeg' artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud.
Puncak dari
upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masdjid Agung. Setelah di
masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan
diperebutkan.
- Maudu Lompoa
Di Cikoang, Takalar, Sulawesi Selatan ada sebuah tradisi menyambut Maulid Nabi, yaitu diadakanya tradisi Maudu Lompoa Cikoang (dalam bahasa Makassar). Tradisi ini merupakan perpaduan dari unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di bulan Rabiul Awal berdasarkan Kalender Hijriyah.
Yang unik
dari tradisi ini adalah persiapannya yang memakan waktu 40 hari. Tradisi
diawali dengan mandi di bulan Syafar yang dipimpin para sesepuh atau tetua.
Pada hari H perayaan Maudu Lompoa, masyarakat Cikoang
yang berpakaian adat berjalan beriringan sampil memikul julung-julung. Nantinya
julung-julung tersebut akan di perebutkan oleh semua orang.Julung-julung yang
diperebutkan berisi telur hias, ayam, beras dimasak setengah matang, beras
ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya. Agar lebih indah,
julung-julung dilengkapi dengan kibaran kain khas Sulawesi warna-warni bak
bendera terpasang di atas perahu. Julung-julung diletakkan di depan semua
orang.
Dan masih banyak lagi.
6. Perayaan di luar negeri
- Perayaan Maulid Nabi di Asia dan Australia.
Berikut ini
beberapa event Maulid Nabi Muhammad yang digelar di berbagai negara di Asia dan
Australia.
Di Brunei Darussalam, perayaan maulid dipusatkan di Bandar Seri Begawan. Malam sebelumnya digelar pembacaan rawi Maulid Syaraful Anam di Istana Nurul Iman. Kemudian siang harinya semua laki-laki keluar rumah untuk berkumpul di alun-alun bersama sultan, menteri dan segenap keluarga kerajaan. Momen ini disebut dengan ‘Perarakan Agung’, yakni berkeliling Bandar Seri Begawan sejauh 4,3 km sambil melantunkan shalawat dan salam.
Indonesia sebagai negeri dengan populasi muslim terbanyak di dunia memiliki tradisi perayaan maulid yang beragam. Hari kelahiran Nabi Muhammad menjadi salah satu hari libur resmi di sini. Setiap tahun, di istana negara digelar pengajian peringatan Maulid Nabi. Begitu pula di kota-kota lainnya, baik di masjid, lapangan, hingga rumah-rumah warga.
Misalnya di Banda Aceh, sebuah daerah istimewa di Indonesia yang disebut sebagai Serambi Mekah. Perayaan Maulid Nabi yang dalam bahasa Aceh disebut Kenduri Maulod merupakan perayaan yang terbesar bila dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain di Aceh. Yakni dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad sebagai Pang Ulee Alam (penghulu Alam). Begitu pula di daerah-daerah kesultanan lain, semisal Yogyakarta dan Surakarta (gerebeg Mulud), Cirebon (Panjang Jimat), maupun Garut (Ngalungsur), berupa parade pusaka dan pasar tumpah selama berhari-hari. Acara-acara Maulid besar juga digelar secara massal swadaya oleh warga seperti di Madura (Muludhen) dan daerah-daerah lainnya. Tradisi perayaan yang digelar pun mirip, intinya warga berkumpul di suatu tempat, kemudian pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, riwayat kehidupan Nabi Muhammad, dzikir, doa, tausiyah, dan ditutup dengan makan bersama.
Di Malaysia, perayaan maulid tidak berbeda jauh dengan di Indonesia. Arak-arakan kaum muslimin berkumpul di ruangan besar unuk kemudian digelar pengajian akbar. Dan tentu saja, sebagaimana di Indonesia, di Malaysia pun ada kalangan yang tidak sepakat dengan perayaan maulid nabi sebagai inovasi yang tidak ada dasarnya dalam agama.
Sedangkan di
Australia, perayaan maulid utama (Grand Mawlid) dipusatkan di Sydney Olimpic
Park. Acara bertajuk ‘Multicultural Mawlid’ ini diselenggarakan secara resmi
oleh Darul Fatwa Australia. Tempat itu akan dihias dengan berbagai bendera,
bunga, balon, dan sebagainya. Kaum muslimin berkumpul di sana, menyimak bacaan
Al-Quran, nasyid-nasyid Islami dan pujian bagi Rasulullah yang dilantunkan
anak-anak muslim Australia dalam berbagai bahasa, serta ceramah keagamaan yang
menggugah. Momen ini juga menjadi ajang silaturahim antarmuslim di Benua
Kangguru ini.
Demikian
sekilas jendela tentang perayaan-perayaan maulid di Asia dan Australia.
- Perayaan Maulid Nabi Di Afrika.
Perayaan
Maulid di Afrika agak berbeda dengan perayaan-perayaan di Asia atau Timur
Tengah. Bahkan nama perayaannya pun khas sesuai dengan tradisi negara-negara
atau daerah penyelenggaranya. Di Sudan, perayaan maulid disebut ‘Havliye’, di
Mali disebut ‘Donba’ (Hari Besar), di Nigeria disebut ‘Gani-gani’.
Di negara-negara Afrika tersebut, umat Islam merayakan maulid dengan antusias, bahkan surat kabar dan media-media setempat memuat edisi khusus tentang perayaan ini. Asal mula perayaan maulid di Afrika bahkan disebut-sebut lebih tua dari perayaan di Timur Tengah. Selain itu, perayaan-perayaan di Afrika ini sarat dengan tradisi dan budaya lokal.
Kaum muslimin di Senegal, misalnya, menjadikan hari kelahiran Rasulullah saw. ini sebagai momen berkumpulnya mereka di ibukota negara, yakni Dakar, atau di kota-kota besar lain semisal Tivavuan dan Kaolack. Perayaan maulid ini begitu membahana, dipimpin seorang syaikh dari tarekat Tijaniyyah, Syaikh Ibrahim Niasse. Pada momen ini, banyak pengunjung berdatangan dari berbagai kota di wilayah Afrika Barat.
Di Mali, umat Islam juga menggelar perayaan maulid dengan meriah. Mereka berkumpul di masjid untuk shalat, berdoa, shalawat, dan menyenandungkan syair pujian tentang Nabi Muhammad. Acara semacam ini digelar di berbagai kota di sana, seperti Djenne maupun di kota yang dikenal sebagai kota dengan 333 wali, Timbuktu.
Di Nigeria, perayaan maulid digelar selama 7 hari berturut-turut. Di momen itu, diadakan perlombaan tilawah Al-Qur’an antar sekolah-sekolah, penerjemahan dan pembacaan teks-teks Islam ke bahasa lokal yang berisi sejarah kehidupan Nabi Muhammad.
Di Addis
Adaba, Etiopia, umat Islam yang berpopulasi 40% dari total penduduknya, juga
merayakan Maulid Nabi. Bahkan, setelah pembacaan sirah nabawiyah dan ceramah
dari para ulama, mereka menyembelih hewan unuk kemudian disedekahkan kepada
kaum fakir miskin. Acara makan-makan pun digelar, baik bersama-sama maupun per
rumah, dan mereka tak segan mengundang tetangga-tetangganya yang beragama
Kristen.
Tak jauh beda dengan perhelatan di Kenya, tepatnya di Lamu. Bahkan sejak tahun 1990, Museum Nasional Kenya menjadi sponsor tetap bagi perayaan maulid di sana. Tidak hanya acara-acara yang bersifat ritualistis, dim momen ini juga digelar pertandingan renang, lomba hias henna, balap keledai, dan sebagainya. Sangat meriah!
- Perayaan Maulid Nabi di Eropa.
Setiap
tahun, hari kelahiran Nabi Muhammad saw dirayakan dengan berbagai kegiatan yang
berbeda di beberapa bagian Eropa. Di hampir setiap negara di Eropa, kaum
muslimin berkumpul pada malam yang diberkati ini, untuk berdoa dan bersuka cita
bersama-sama. Umumnya, acara-acara ini diadakan di pusat-pusat komunitas,
semisal masjid aau Islamic Centre.
Misalnya di
London, Inggris, acara dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an, dilanjutkan dengan
ceramah tentang pentingnya peran organisasi-organisasi ini berperan dalam
memperkuat ikatan antar-muslim, pembacaan nasyid dalam bahasa yang berbeda dari
berbagai latar belakang etnis, lalu digelar jamuan untuk para tamu. Di luar
London, banyak lagi organisasi atau perkumpulan uma Islam yang menyelenggarakan
perayaan maulid di berbagai daerah. Berbagai kegiatan disusun, seperti
konferensi, ceramah, seminar, kompetisi, kuis, parade maulid, pembacaan
Al-Qur’an dan tentu saja salawat salam untuk Nabi.
Di Spanyol,
sebuah negara Eropa dengan populasi muslim yang sangat besar, perayaan
kelahiran Nabi Muhammad bisa ditengok dari sejarah tentang Granada dan
Andalusia. Perayaan Maulid menjadi hari libur resmi di Mesir dan Afrika Utara
mulai abad ke-10 atau ke-11. Setelah hari libur maulid ini populer di Afrika
Utara pada akhir abad ke-13 (hingga hari ini), maka dengan cepat menyebar ke
seluruh Granada.
Di masa
lalu, perayaan maulid di Andalusia tidak berbeda dengan perayaan di Timur
Tengah. Misalnya, di abad ke-14, perayaan Maulid di Granada digelar sepanjang
malam, selama dua belas jam, dimulai dengan shalat Maghrib saat matahari terbenam,
shalat Isya ‘, hingga shalat Subuh di fajar pagi selanjutnya. Di acara ini
disediakan makan malam, makanan ringan larut malam, dan sarapan di pagi
berikutnya. Berbagai macam makanan disajikan untuk para tamu. Makanan penutup
terdiri dari kue-kue yang dibuat dengan gula, juga ada air mawar dan
buah-buahan, seperti ceri dan apel dari Granada, buah ara kering dari
Almunecar, dan buah delima dan anggur dari Malaga.
Lantunan kasidah didendangkan oleh para munsyid yang berbeda sepanjang malam. Selain kewajiban shalat jamaah dan bacaan Al-Quran, acara malam itu diisi pembacaan kasidah dan puisi-puisi klasik abad pertengahan.
Jerman dan Perancis, negara-negara di mana populasi besar kaum muslimin bermigrasi di masa lalu, juga digelar perayaan maulid. Di Jerman, umat Islam berkumpul bersama di masjid dan aula untuk merayakan kelahiran Nabi. Di Perancis, perayaan maulid Nabi Muhammad telah menjadi tradisi dalam beberapa dekade terakhir.
Di negara-negara lain seperti Belgia, kelahiran Nabi Muhammad dirayakan dengan berbagai kegiatan, seperti di negara-negara Eropa lainnya. DiPolandia telah menjadi tradisi bagi kaum muslimin di sana untuk berdoa bersama di masjid-masjid, kemudian mengunjungi kerabat pada hari yang diberkati ini.
Sedangkan di Rusia, perayaan maulid diselenggarakan dalam ruangan konser besar, dihadiri ara ulama, anggota parlemen Rusia, sejumlah akademisi, penulis, serta orang-orang dari latar belakang dan etnis yang berbeda. Lomba puisi disusun untuk memilih puisi terbaik yang mengungkapkan cinta untuk Nabi. Lagu-lagu Islami dinyanyikan oleh berbagai kelompok dan anak-anak.
Salah satu
perayaan maulid paling antusias digelar di Ukraina. Mufti Ukraina
menyelenggarakan kegiatan Maulid di aula besar dengan ribuan orang yang hadir.
Acara ini dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an, lalu kelompok nasyid
menyenandungkan syair-syair Islam berbahasa Arab, Rusia, Turki dan Tatar.
Kehidupan Nabi dikisahkan disertai dengan visualisasi yang indah. Setelah acara
ini, permen-permen dibagi-bagikan oleh anak-anak untuk para tamu.
Di Denmark, ada asosiasi wanita yang mengatur perayaan maulid. Dalam program tersebut, kompetisi syair juga diadakan untuk kategori usia yang berbeda. Acara dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an setelah shalat Dzuhur. Kemudian syair dinyanyikan untuk memuji Nabi Muhammad, lalu ada ceramah keagamaan. Di sini juga berbagai hadiah diberikan kepada para wanita dan anak-anak, acara berakhir dengan salaam kepada Nabi Muhammad dan doa.
Maulid Nabi Muhammad juga dirayakan di Austria. Di Belanda, kelahiran Nabi Muhammad dirayakan dengan berbagai kegiatan. Perkumpulan besar dihelat selama berhari-hari, di aula besar dan dihadiri orang-orang dari latar belakang etnis yang berbeda (Maroko, Arab, Turki, dan asli Belanda). Kehidupan Nabi Muhammad disosialisasikan di acara ini. Di jalan-jalan, mereka membagikan mawar yang disisipi kertas kecil bertuliskan hadits Rasulullah. Dalam momen ini, sumbangan dan makanan pun dibagi-bagikan.
Di Yunani, kaum muslimin berkumpul di Syntagma Square, di ibukota Athena, mereka menyenandungkan syair Islami untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad. Kemudian Al-Qur’an dibacakan dan diakhiri dengan doa bersama.
Demikian yang dapat saya tuangkan dalam blog kali ini, semoga materi kali ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Terimakasih telah membaca.
Billahitaufik wal hidayah
Wassalamualaikum
Warohmatullah Wabarakatuh
Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad
http://hakamabbas.blogspot.com/2013/11/pengertian-perayaan-maulid-nabi.html?m=1.
http://www.nu.or.id/post/read/73506/maulid-nabi-perspektif-al-quran-dan-sunnah
http://www.nu.or.id/post/read/84116/penjelasan-para-ulama-tentang-maulid-nabi-muhammad
https://www.liputan6.com/news/read/2396356/8-tradisi-unik-perayaan-maulid-nabi-di-nusantara
https://serambimata.com/2015/12/16/mengintip-perayaan-maulid-nabi-di-berbagai-belahan-dunia/

Comments
Post a Comment